Ini Alasan Kenapa Sawit Penting Bagi Perekonomian RI

Kelapa sawit menjadi komoditas penting bagi perekonomian Indonesia. Sebab kelapa sawit memiliki peranan paling besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, industri kelapa sawit telah menunjukkan sumbangsih dan peran sangat signifikan bagi perekonomian. Di antara subsektor perkebunan dan hortikultura, kontribusi kelapa sawit paling besar dalam mendukung perekonomian Indonesia.

"Dibandingkan subsektor lain, seperti karet, kopi, kakao, maupun kelapa, peranan swasta dalam subsektor kelapa sawit ini sangat besar," ujarnya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Ke-10 di Jakarta, kemarin. 

Darmin mengatakan, setiap tantangan maupun gangguan yang berpotensi menghambat keberlangsungan kelapa sawit Indonesia harus dilawan. Karena itu, pemerintah bersama dunia usaha harus bekerja sama melakukan perlawanan dalam meng hadapi kampanye negatif.

“Di dalam negeri, kita punya BPDP (Badan Pengelola Dana Per kebunan) Kelapa Sawit dan di luar negeri kita punya CPO Fund untuk membela kepentingan sawit Indonesia. Artinya, melalui keberadaan kedua lembaga itu serta dukungan pemangku kepentingan sawit lain bahu membahu menjalankan di plomasi perjuangan untuk membela kepentingan perekonomian kita,” ujarnya.

Darmin menuturkan, pemerintah juga melakukan beberapa program pemerataan ekonomi untuk mendorong perekonomian masyarakat. Salah satunya mempercepat pembagian sertifikasi tanah rakyat. Jika ini berjalan baik, maka dalam beberapa tahun ke depan seluruh lahan rakyat tersertifikasi.

“Dulu paling banyak pemerintah hanya membagi 650.000 persil. Namun, mulai tahun lalu jumlah itu kita tingkatkan menjadi 5 juta persil per tahun. Bahkan, tahun ini ditingkatkan menjadi 7 juta persil dan tahun depan 9 juta persil. Angka ini merupakan kenaikan hampir delapan kali lipat,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Enggar tiasto Lukita mengatakan, kam panye negatif dari negara Eropa terhadap komoditas kelapa sawit Indonesia harus dibuktikan terlebih dahulu. Menurutnya, perlakuan negara Eropa tersebut merupakan bentuk persaingan tidak sehat pada industri minyak nabati domestik.

“Kalau ada tuduhan, mari buktikan dulu dan kita sudah mengundang mereka untuk itu. ISPO kita sudah mendekati standar global RSPO dan mereka minta batasnya 80%. Saya bilang kita sudah 85%-90%,” ujarnya.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, produksi CPO Indonesia tahun 2017 mencapai 38 juta ton. Dari 38 juta ton tersebut, diekspor ke lebih dari 50 negara sebanyak 31 juta ton. Sementara yang di pakai untuk pasar domestik sebesar 11 juta ton.

“Dari 31 juta ton, yang di ekspor dalam bentuk CPO hanya 7 juta ton. Sisanya 24 juta ton diekspor dalam bentuk olahan. Ini membuktikan program hilirisasi sudah menunjukkan hasil,” ujarnya.

Joko mengatakan, nilai ekspor sawit 2017 mencapai USD22,9 miliar. Ini merupakan angka tertinggi dalam ekspor sawit. Joko menuturkan, luas perkebunan sawit Indonesia 2017 sekitar 11,9 juta hektare (ha) karena 42% merupakan kebun rakyat, baik plasma maupun kebun rakyat swadaya. Sejalan dengan Gerakan Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Rakyat, Gapki berkomitmen mendukung dan berkontribusi untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.

Selain itu, Gapki akan memperluas program kemitraan dengan petani swadaya karena kelompok ini produktivitasnya lebih rendah dari kebun plasma.

“Dengan skema kemitraan ini diharapkan terjadi peningkatan produktivitas secara gradual,” tuturnya.
Gapki juga meminta dukungan pemerintah dalam penyelesaian masalah tumpang tindih kawasan hutan dengan kebun sawit rakyat.

“Karena ini akan menghambat kelancaran program kemitraan,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar