Apakah Benar Jalanan Beton Bikin Cepat Aus Ban


Tidak dikit yang katakan jika lewat di jalanan beton terus-terusan ban jadi bertambah cepat botak atau aus. Beda pada permukaan aspal yang tuturnya membuat jalur ban masih terbangun secara baik. 

Lalu, apakah benar hal itu? 

Bertanya ini pada OVT Manager GT Proving Ground, Zulpata Zainal menerangkan, kedua-duanya bergantung di tingkat kekasaran jalan. Jadi baik aspal atau beton, sebetulnya punyai tingkat kekasaran yang berlainan. 

"Persisnya harus diukur friksinya atau koefisien permukaan jalan, dapat aspal yang lebih kasar dibanding beton kan, atau jenis permukaan aspalnya," membuka Zul. 

Zul menyontohkan aspal pada circuit balap, biasanya permukaan aspal circuit yang direncanakan dengan traksi tinggi membuat ban bertambah cepat aus dibandingkan aspal jalan arteri atau tol. 

"Jadi jika aspalnya kasar, betonnya halus, bertambah cepat keausan ban di aspal, serta sebaliknya," imbuhnya . 

Menurut dia, permukaan jalan beton memang benar dapat percepat keausan ban, jika style mengemudi, type ban yang digunakan, beban muatan pada kendaraan semua seragam. Tetapi sebenarnya, semua situasi itu beragam. 

"Kenyataannya jika situasi semua jalan sama, kecepatan sama, muatan, langkah nyetir sama, ban tipenya sama, iya bukti keausan ban dapat bertambah cepat jika jalan di permukaan beton, dibandingkan aspal, khususnya yang cross rain groove, garis-garisnya melintang dengan arah kecepatan kendaraan," tuturnya . 

Tetapi yang disebut bertambah cepat aus tuturnya tidaklah sampai mempersingkat usia ban sampai 1/2 atau seperempat dari ban yang hanya melalui jalanan aspal. 

"Sebelum ban di pasarkan, kami lakukan yang namanya wearing test, ban digerakkan tiap hari sampai beberapa puluh ribu km. dengan permukaan jalan yang berlainan, ada beton, aspal, turunan-tanjakan, lurus, berbelok, kering, basah, dan lain-lain," lanjut Zul. 

"Jadi pabrikan ban telah membuat standard, mengenai besar keausan ban minimum untuk satu ban, umumnya tes ini satu diantara ketentuan untuk dapat suplai ke pabrikan kendaraan untuk dapat digunakan ban sah," timpal Zul. 

Masih dikatakannya, di samping kasarnya permukaan jalan, terdapat beberapa unsur lain yang memengaruhi percepatan keausan ban. Karena itu, butuh lihat pemeliharaan ban agar tidak cepat botak mencakup: 

1. Yakinkan desakan angin ban sesuai dengan referensi pabrikan mobil, minimum cek tiap 1 bulan sekali 

2. Perputaran ban tiap 5.000 km 

3. Teratur check kelurusan roda (spooring) serta kesetimbangan roda (balancing) 

4. Teratur memeriksa suspensi kendaraan 

"Tidak kalah penting penggunaan ukuran, type ban, dan berat muatan harus sesuai dengan yang direferensikan pabrikan mobil," tutup Zul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

loading...