Feminisme : 4 Relasi Kesalingan Untuk Ketahanan Keluarga

Feminisme-4-Relasi-Kesalingan-Untuk-Ketahanan-Keluarga

Ketika seorang pria dan perempuan ingin membangun mahligai rumah tangga, maka pasangan itu akan melakukan prosesi sakral pernikahan dengan ijab dan qobul terlebih dahulu. Proses ini sebagai pijakan awal membangun keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah dengan dorongan pandangan feminisme yang setara antara laki-laki dan perempuan. 

Sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan pengetahuan relasi kesalingan yang adil, seimbang, dan setara dalam berumah tangga. Sehingga salah satu pihak mendapatkan perlakuan tak adil. Karena tugas domestik dan mengurus anak sepenuhnya diserahkan kepada istri. 

Relasi Kesalingan 

Seorang istri memiliki peran reproduksi. Dari mulai hamil, melahirkan hingga menyusui anak-anaknya. Terutama proses melahirkan, perempuan harus mempunyai tenaga ekstra, baik fisik dan juga mental untuk mengeluarkan jabang bayi. Bahkan istri harus mempertaruhkan nyawanya. 

Di samping itu, meskipun kita ketahui bahwa partisipasi perempuan di ranah publik, dari mulai pendidikan, karier dan pengembangan life skill semakin meningkat. Namun perempuan masih terbebani dengan pekerjaan domestik dan anak, sehingga double burden masih terjadi di masyarakat. Untuk mengatasinya, sebaiknya suami istri melakukan 4 relasi kesalingan yang didasari feminisme di bawah ini agar bisa saling memahami satu sama lain. 

1. Berbagi Peran Domestik 

Sudah bekerja di luar, tapi ketika di rumah perempuan harus dibebani dengan urusan domestik. Katanya sayang istri, tapi kok tidak mau berbagi peran di rumah? Padahal perempuan juga telah berbagi peran dalam menopang ekonomi keluarga. 

Pekerjaan domestik bukanlah kodrat perempuan melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara laki-laki dan perempuan. Tinggal disepakati bersama dan pekerjaan rumah dibagi, seperti mencuci pakaian, perabotan, menyapu, mengepel, menyetrika hingga mengurus anak. 

Sebab istri bukanlah pelayan yang dapat disuruh seenaknya suami. Istri bukan robot, tapi manusia yang diciptakan Tuhan, yang derajatnya sama seperti laki-laki. Keduanya merupakan manusia yang mulia dan bermartabat. 

2. Saling Melayani 

Jika suami ingin dilayani, maka istri pun berhak dilayani suami dan jika suami meminta sesuatu, maka istri pun punya hak minta sesuatu. Dan jika ingin menambah keuangan keluarga, maka berilah kebebasan pada istri untuk bekerja dan berkarya. Pemahaman seperti ini merupakan paham yang didasari dengan paham feminisme dengan mengedapkan kesetaraan dan kesalingan. 

3. Saling Memahami 

Jika cintanya tak ingin dikhianati, maka jangan mengkhianati cinta yang sudah dibangun lama. Janganlah menuruti nafsu, karena itu hanya sesaat. Yang bertahan lama adalah saling mencintai, menyayangi dan melengkapi satu sama lain. 

4. Membangun Ketahanan Keluarga 

Untuk mencapai pulau kebahagiaan satu ke pulau kebahagiaan lain, maka bahtera harus didayung bersama. Kalau ada ombak besar sekalipun tentu bisa dilalui bersama. Kalau mendayung sendiri, maka hal itu dapat mengancam terbaliknya bahtera (ketahanan keluarga). 

Membangun ketahanan keluarga memang tidak mudah. Jika tidak dibekali dengan pengetahuan relasi kesalingan dua belah pihak. Kesalingan bukan hanya masalah pendidikan, karier atau pengembangan diri, tetapi pekerjaan domestik dan mengurus juga harus dilandasi kesalingan. Saling bekerja urusan domestik dan mengurus anak. 

Demikianlah 4 relasi kesalingan yang didasari ilmu pengetahuan feminisme agar suami istri saling melengkapi satu sama lain. Membangun relasi kesalingan dan ketahanan keluarga sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya perceraian yang diakibatkan oleh permasalahan ringan. 

Karena menurut Badan Peradilan Agama (Badilag), Mahkamah Agung (MA) tahun 2011-2014 terdapat 5 faktor yang mengakibatkan perceraian, diantaranya tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, faktor ekonomi, gangguan pihak ketiga, dan cemburu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

loading...